Kediri — Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama atau Munas-Konbes NU 2026 memiliki bobot strategis karena menjadi forum penyambung menuju Muktamar ke-35 NU.
Sekretaris Steering Committee Munas-Konbes NU 2026, Prof. Dr. Muhammad Nuh, mengatakan Munas-Konbes kali ini berbeda dibanding penyelenggaraan sebelumnya karena terhubung langsung dengan agenda Muktamar ke-35 NU yang akan digelar dalam waktu dekat.
“Muktamar ke-35 ini menempati momentum yang sangat istimewa, karena berada pada titik peralihan, yakni penghujung abad pertama dan awal abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama. Sebagaimana lazimnya sambungan zaman, momentum ini sangat krusial dan harus disiapkan dengan sebaik-baiknya,” ujar Prof. Nuh di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri.
Prof. Nuh menegaskan, Steering Committee bersama panitia pelaksana berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada para masyayikh, peserta, dan seluruh tamu Munas-Konbes NU 2026. Menurutnya, terdapat sejumlah titik kritis yang menjadi perhatian utama, terutama sejak kedatangan peserta.
Panitia menyiapkan posko khusus di Bandara Juanda dan stasiun kereta untuk memberikan informasi serta memfasilitasi kendaraan menuju lokasi kegiatan. Dengan demikian, para peserta tidak mengalami kesulitan sejak tiba hingga menuju arena Munas-Konbes.
“Para masyayikh dan peserta yang datang melalui Bandara Juanda maupun stasiun kereta akan disambut melalui posko khusus. Di sana disiapkan informasi dan kendaraan agar tidak ada tamu yang kebingungan dalam perjalanan menuju lokasi,” katanya.
Selain titik kedatangan, mobilisasi peserta dari penginapan menuju arena persidangan juga telah dirancang secara detail. Panitia menyiapkan pengawalan agar perjalanan peserta berlangsung lancar, tertib, dan aman.
Dari sisi persidangan, panitia juga telah menyiapkan data peserta secara rinci, termasuk pembagian komisi, lokasi sidang, serta materi yang akan dibahas. Hal ini penting agar setiap komisi berjalan proporsional dan tidak terjadi penumpukan peserta di satu komisi tertentu.
“Data peserta sudah dipegang secara rinci. Siapa berada di Komisi apa, siapa di komisi organisasi, siapa di Bahtsul Masail, dan seterusnya. Ini penting agar tidak terjadi perpindahan peserta yang membuat satu komisi kelebihan dan komisi lain kekurangan,” ujar Prof. Nuh.
Ia menjelaskan, seluruh materi yang dibahas dalam Munas-Konbes NU 2026 memiliki nilai penting bagi organisasi, umat, dan bangsa. Sebagian materi dapat diputuskan langsung dalam forum Munas-Konbes, sementara sebagian lainnya yang bersifat strategis akan dibawa dan ditindaklanjuti dalam Muktamar ke-35 NU.
Prof. Nuh berharap seluruh pembahasan berlangsung dalam suasana yang sejuk, tertib, dan penuh pencerahan dari para ulama serta ahli fiqh. Menurutnya, perbedaan pandangan dalam forum harus menjadi jalan untuk melahirkan keputusan terbaik.
“Kita berharap pertukaran pandangan berlangsung dengan suasana yang sejuk dan penuh pencerahan. Dari sana insyaAllah akan lahir keputusan-keputusan terbaik bagi umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama,” katanya.
Prof. Nuh juga menegaskan bahwa Munas-Konbes NU 2026 bukan forum tertutup. Sebaliknya, forum ini layak diketahui publik karena membahas agenda-agenda penting keumatan dan kebangsaan.
Karena itu, panitia berkomitmen memfasilitasi rekan-rekan media agar memperoleh akses informasi dari sumber yang sahih. Steering Committee akan membantu menyaring informasi, membedakan mana hasil yang telah final dan layak diberitakan, serta mana yang masih dalam proses pembahasan.
“Ini penting agar tidak terjadi simpang siur dan kegaduhan di ruang publik. Informasi yang disampaikan kepada publik harus terverifikasi dan bersumber dari pihak yang berwenang,” ujarnya.
Menurut Prof. Nuh, tingginya perhatian berbagai pihak terhadap Munas-Konbes NU 2026 justru menunjukkan bahwa Nahdlatul Ulama dan otoritas ulama masih memiliki makna yang sangat kuat di tengah masyarakat.
Ia menambahkan, dinamika kepentingan yang menyertai forum besar seperti Munas-Konbes akan dikelola dengan bijak agar tidak mengganggu jalannya persidangan.
Dari sisi teknis, panitia juga memastikan kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk ketersediaan jaringan internet dan bandwidth yang memadai. Hal ini diperlukan mengingat tingginya kebutuhan komunikasi dan informasi selama kegiatan berlangsung.
Setiap komisi juga akan menyelenggarakan sesi komunikasi publik dengan bahan yang telah terverifikasi. Pengelolaan media sosial dan televisi akan dilakukan secara cermat agar informasi mengenai Munas-Konbes NU 2026 tersampaikan dengan baik kepada masyarakat.
Prof. Nuh menyampaikan rasa syukur atas antusiasme kehadiran peserta. Berdasarkan data panitia, mayoritas PWNU dan anggota Pleno PBNU telah menyampaikan konfirmasi kehadiran.
“Dengan kesiapan menyeluruh ini, kami mengajak seluruh elemen panitia dan peserta untuk bersama-sama menyukseskan Munas-Konbes NU 2026 sebagai forum yang penuh berkah menuju Muktamar ke-35,” katanya.