KEDIRI – Sebanyak 7.000 anggota Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) NU se-Jawa Timur memadati Asrama Ar-Raudhiyah Al-Jazeera, Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, pada Jumat (19/6/2026) malam. Kehadiran massa dalam jumlah besar ini dalam rangka memeriahkan acara pra-munas menjelang pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU.
Ketua Panitia Lokal Munas-Konbes NU, Agus Bahauddin mengonfirmasi bahwa ribuan jamaah hadrah tersebut sengaja diundang dari berbagai daerah di Jawa Timur untuk menyemarakkan forum tertinggi kedua di tubuh Nahdlatul Ulama tersebut.
"Kami mengundang ISHARI dari seluruh Jawa Timur. Kurang lebih ada 7.000 orang yang hadir di sini untuk memeriahkan pra-munas," kata Agus Bahauddin kepada Risalah NU.
Dalam sambutan pembuka, Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa himmah atau orientasi utama majelis Ishari bukan semata-mata pada hadrah sebagai kesenian namun sarana untuk bertabaruk, baik kepada para masyayikh maupun kepada shalawat yang dilantunkan dalam pelaksanaan hadrah.
“Terutama pada kegiatan organisasi khidmah kita adalah tabaruk. Pertama, kepada munasabah majelis kita ini yang berada dalam rangkaian Haul Masyayikh Ploso, dan bertabaruk kepada shalawat pada saat pelaksanaan hadrah malam hari ini,” ujarnya.
Agus menjelaskan, acara ISHARI ini dipusatkan di Aula Dua kompleks pesantren, bukan di panggung utama, guna memastikan seluruh rangkaian acara lokal dapat berjalan kondusif. Kegiatan ini sekaligus menjadi pembuka gelombang kedatangan arus massa di kawasan Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso.
Pihak panitia memprediksi arus kedatangan jamaah, alumni, dan wali santri akan terus meningkat hingga 21-22 Juni mendatang. Selain menghadiri Munas-Konbes NU yang resmi dibuka pada Sabtu (20/6/2026) hari ini, massa juga dijadwalkan menghadiri Haul Romo Kiai Jazuli yang memuncak pada Selasa (23/6/2026) esok.
Melalui syiar sholawat ini, panitia lokal berharap pelaksanaan Munas-Konbes NU di Pondok Pesantren Al-Falah dapat berjalan lancar serta membawa berkah bagi masa depan organisasi.
"Prinsip para kiai, NU adalah pesantren besar, sementara pesantren adalah NU kecil. Kami berharap munas ini mendapatkan pangestu (restu) para masyayikh dan mengembalikan roh NU pada makom yang semestinya," ujar Agus.